Langsung ke konten utama

Postingan

Dulu, aku begitu mengharapkanmu.

Ada pepatah lama yang mengatakan tak kenal maka tak sayang. Sialnya aku lebih dulu "sayang" sebelum mengenalmu. Bagaimana mungkin? Mungkin saja, kita bisa saja jatuh hati meski belum pernah bertemu. Lalu bagaimana? Daring, menjadi salah satu jalan yang memiliki peluang itu. "Jatuh cintanya daring, patah hatinya luring" ini adalah kalimat ter-pahit yang pernah aku alami sebelumnya. Aku pernah... Mengharapkan temu yang tak kunjung kau jamu, mengharapkan rindu yang tak kunjung kau redam, mengharapkan janji yang tak pernah terbukti. Ya, benar. Daring mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Bahkan dulu... Aku begitu mengharapkanmu. Menunggu kabar yang tak kunjung ku dapat. Padahal kau hanya membalas pesan ketika sempat. "Aku ini kau anggap apa?" Pertanyaan bodoh yang sudah kuketahui jawabannya. Aku memilih menjauhimu lebih dulu, meski tanpa kau jelaskan berulang kali, aku sudah begitu paham. Bahwa kau memintaku untuk menjauh. Kini, mendengar namamu tak

Anekdot Didalam puisi

JERUJI YANG TAK RAPAT karya: Fifi Nurhafifah Si cokelat berpangkat kau memiliki tugas yang mulia kau merupakan penegak hukum di negeri ini kau bertugas mengayomi kami dan juga melayani dengan sepenuh hati kau bekerja siang malam tanpa kenal lelah kau begitu hanya untuk menertibkan kami apa ada yang tidak percaya? ini buktinya.......... kau tangkap para tikus berdasi kau jerat   pengedar narkoba kau tangkap para penjahat agar negara kita ini bebas dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab serta orang-orang yang tak taat tapi..... kenapa masih ada pelanggar lalu lintas yang dapat lewat? koruptor yang selamat? apakah jeruji yang kau dirikan tiada rapat sehingga para pesangkar mencuat keluar? seberapa lamakah kau ke awan mimpi hingga si burung diam terlewat pun kau tak tau. atau ......karna kau di suap? semoga tidak. jangan biarkan negara hukum kita ini di andaikan sebuah pisau yang tajam di bawah serta tumpul di atasnya hany